expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Info saya

Minggu, 07 April 2013

Remote Universal / Remote control TV Multifungsi



Remote Universal / Remote control TV Multifungsi

Selamat pagi teman-teman yang bahagia, bagi yang galau tidak bias mengoprasikan/ mengontol remote pada tv jangan berkecil hati, kini aku akan membantu anda dengan senang hati,
Bagi orang banyak yang kesal apalagi saat chenil yang anda cara tidak dapat-dapat dikarnakan remote TV tidak berfungsi alias rusak atau error kini aku member solusi menggunakan remote moltifungsi pada berbagai merk tv dengan 1 remote, tidak panjang lebar langsung lihat cara diawah ini yaw:
Gambar remote multifungsi 1;


Gambar bagian 2(remote yang jelas);


Gambar bagian 3;


Gambar 4 langkah awal mencari secara otomatis:


Gamabar 5 langkah ke dua dengan menekan tombol yang sesuai merk TV:


Gambar 6 langkah ke tiga dengan cara volume:


Demikian petunjuk yang aku berikan pada anda teman-teman yang suka menghabisi waktu depan TV, semoga bermanfaat, kurang lebihnya aku minta maaf, terima kasih.

untuk lebih jelasnya bisa unduh dalam bentuk PDFnya, klik dibawah ini yaw:
 http://www.4shared.com/office/rflkXGwy/Remote_Multifungsi.html

Jangan lupa bagi teman-teman yang suka berbagi puisi bias baca disini juga yaw:

By-Juhari

Jumat, 05 April 2013

RESENSI GADIS PANTAI

GADIS PANTAI

Judul               : Gadis Pantai
Penerbit           : Lentera Dipantara
Penulis             : Pramudya Ananta Toer
Tebal               : 270 halaman
Kategori          : Novel Roman


Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, 6 Februari 1925 dan wafat di Jakarta, 30 April 2006 pada usia 81 tahun. Beliau termasuk pengarang produktif pada masa itu, buktinya meskipun berada dalam buih, beliau tetap menghasilkan karya. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan dalam lebih dari 41 bahasa asing.
 Ia merupakan salah satu sastrawan Indonesia yang hampir separuh hidupnya dihabiskan di dalam penjara; tiga tahun dalam penjara colonial, satu tahun di masa Orde Lama, dan 14 tahun pada masa Orde Baru tanpa proses pengadilan. Dalam masa-masa hidupnya di dalam bui, Pramoedya menghasilkan beberapa karya, diantaranya adalah Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca).

Setiap kali membaca tulisan-tulisan Pramoedya Ananta Toer, kita pasti selalu merasa kagum. Di setiap lembaran kita menemukan sesuatu. Bukan hanya bahasa saja yang menarik tetapi juga idealisme. Karya-karyanya terlalu banyak melontarkan humanisme. Pramoedya mengaku tema seperti itu dalam sebagian besar tulisannya banyak dipengaruhi oleh Multatuli, pengarang Max Havelaar yang mengatakan bahwa tugas manusia adalah menjadi manusia. Beliau juga belajar tentang humanisme daripada karya-karya John Steinbeck dan menelusuri ideologi daripada penulis agung Rusia, Mar Xim Gorky.

Melalui watak-watak tertentu, yang pastinya perwatakan dari golongan kelas bawah, Pramodya mewujudkan watak hero yang menentang berbagai situasi yang tidak manusiawi. Antaranya feodalisme priyayi Jawa, kolonialisme dan imperialisme. Watak-watak hero itu akan mengkritik, membidas dan mengutarakan pandangan-pandangan tertentu yang mewakili golongan masyarakat bawahan di Jawa. Pandangan tidak manusiawinya feodalisme Jawa dikritik dengan begitu luas oleh Pramoedya terutama dalam Gadis Pantai. Ia mengangkat kisah betapa rendahnya seorang rakyat kecil hanya sama dengan sebilah keris pembesar.
Inilah potret nasib buruk kaum perempuan desa di bawah feodalisme Jawa selama beberapa abad bahkan sampai abad 20. Tokoh utamanya hanya disebut Gadis pantai, walau tanpa nama dia mewakili segolongan kaum wanita dari keluarga desa yang miskin dan tidak berpendidikan. Settingnya adalah kabupaten Rembang di pantai utara Jawa pada awal abad 20.

Suatu hari dia dikawini oleh seorang pribumi pejabat pemerintah kolonial yang tidak dia kenal. Apa yang dia tahu hanyalah dia harus taat dan hormat pada suaminya yang dipanggil bendoro (sebutan kehormatan untuk kaum feodal Jawa). Sampai menikah dan punya anakpun dia tidak memiliki hubungan hati ke hati dengan suaminya. Tidak ada hubungan manusiawi. Di rumah tempat tinggalnya ada bagian di mana dia tidak pernah menginjakkan kaki, bahkan masih ada ruangan yang baginya tetap asing selamanya. Di rumah kabupaten itu ada beberapa anak yang tidak ada ibunya karena mereka sudah dicerai sedangkan anak-anak itu diasuh pembantu.

Roman yang menjadi sekuel pertama dari trilogi roman keluarga ini adalah roman yang indah dan mempesona. Pramodya berhasil membongkar dan menunjukkan kontradiksi negative praktik feodalisme Jawa yang tidak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan. Tentu saja, roman ini berhasil menusuk feodalisme jawa yang tepat pada jantungnya.
 Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer, merupakan novel pertama dari trilogi yang ditulisnya, sebuah novel tanpa terselesaikan, karena dua buku kelanjutan dari Gadis Pantai hilang ditelan keganasan kuasa, kepicikan pikir dan tradisi aksara yang masih membuta. Gadis Pantai pun dipastikan tak akan pernah ada jika pihak Universitas Australia( ANU) di Canberra tidak mendokumentasikannya dan lewat Savitri P. Scherer( mahasiswi) yang mengambil tesis. Novel yang bercover gambar seorang gadis pantai yang memakai kebaya hijau dan kain coklat, bersanggul dengan mimik yang polos serta gambar Bendoro yang di kawal ajudannya dengan payung memayungi Bendoro disertai back ground pantai dengan langit yang sangat cerah bercerita mengenai relasi antara mas nganten dengan pembesar yang “memeliharanya”. Pembesar atau Ndoro merupakan orang Jawa yang berdarah biru yang memiliki korelasi dengan pemerintah Belanda. Novel ini sangat kritis sekali membicarakan feodalisme Jawa pada masa itu. Pada dasarnya novel ini menyuarakan suara rakyat jelata, rakyat dari golongan bawah dalam sistem feodalisme Jawa, para priyayi yang bercokol di kaki-kaki pemerintah Belanda. Perbedaan yang sangat mencolok, bahwa status sosial sangatlah penting di masa itu. Golongan priyayi (termasuk kaum bendoro) adalah orang-orang suci yang sulit untuk disentuh, mereka berhak memperlakukan apa saja terhadap rakyat bawahnya, termasuk mengawini anak-anak gadis mereka dijadikan sebagai Mas Nganten yang akhirnya dicampakkan begitu saja. Bagaimana kehidupan baru si gadis pantai selama menjadi isteri Bendoro?? Apakah si gadis pantai merasa bahagia atau malah sebaliknya?? Lalu siapakah Mardinah itu? Adakah hubungan dengan Bendoro? Kemudian mengapa si gadis pantai bisa di usir dari rumah gedong lalu dicerai oleh Bendoro? Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana kisah selanjutnya setelah gadis pantai di usir dari gedong, kemanakah gadis pantai pergi? Novel yang berjudul Gadis Pantai ini sangatlah menarik untuk dibaca, banyak pesan yang terkandung di dalamnya, perbedaan status sosial yang menjadi penyebabnya dalam waktu penjajahan.

Selasa, 12 Maret 2013

P vs S

P vs S
Sholikin pembunuh sadis
tak ada penyesalan raut mukanya yang meringis
berkata jujur demi dendam sakit hati
berani tanggu jawab walau di hukum mati

Sholikin memberi inspirasi pada negari ini
walau mayat bocah disembunyiin untuk hilangikan barang bukti
demi amankan diri dari hukum mati
namun penyakit hati juga ketahuan oleh bapak polisi

tak ada pendidikan dan ilmu tinggi
tak ada derajat untuk pertahankan diri
dia senyum ikhlaskan hati
mati diri dalam jeruji besi

tak ada kata sesal dia iringi
itulah mungkin perinsip hati
sempat difonis gila diri
namun sadar akan pembunuhan ini

coba kita bandingkan dengan kasus korupsi

terpapang jelas di kantor KPK "BERANI JUJUR HEBAT"
tapi banyak para petinggi yang enggan lihat
mati pun yaa sekat
masyarakat hanya mengharapkan janji yang sudah di jilat

pertinggi punya derajat
ilmu pun sudah padat
tapi sulit dikatakan HEBAT
jujur pun dia MELARAT

aku harap ditempat ini kumpulan orang hebat
berkata jujur apa yang dilihat
jangan perpura-pura di depan punya banyak bakat
tunjukan dengan tindakan bukan ucap

Selasa, 29 Januari 2013

error

aku nikmati saja
aku telan saja
aku dengarkan saja
apa yang dia bicara

kalau itu yang terbaik untuk hatinya
memberi kesenangan dirinya
memuaskan batin yang sepian
aku terima apa adanya

sebuah ciuman panas engkau berikan
segudang rindu kau musnahkan
menyirami hatiku dengan air keru
tak bisa berbuat apa yang ku lakukan sudah bisa

tak pernah perduli apa yang engkau rasa
hanya tulisan sial yang engkau baca
pahamilah dengan hati
biar kasih ini tak selalu berhenti

apa yang engkau puja
bila selama itu tersiksa
lepaskan saja
biarkan terbang lepas keangkasa

pernah aku coba
pernah aku rasa
pernah aku alami
semuanya aku pahami

begitulah cinta
begitulah kasih sayang
tak ada petang kita pasti rasa terang
malam pun dianggap siang

By_Juhari

Sabtu, 26 Januari 2013

Harapan Anak Bangsa

bila semua tak pernah bertemu
sapa pun saling berjabat dalam genggaman mu
satu demi satu ku persembahkan untuk mu
cerita indah di dalam negri indonesia ku

disaat menangis, ku menghibur dengan rangkaian kata
disaat bahagia, entah kenapa diri ini engkau lupa?

aku tahu indonesia beranekaragam suku?
aku juga tahu berfariasi bahasa mu?
tapi kenapa engkau mendidik orang tebal saku
yang tak terlihat, engkau musnahkan dengan politik mu

negara ini sudah merdeka
belanda dulu pulang dengan tangan hampa
sekarang....
para pejabat negara lupan karena harta
anak bangsa lapar dan dahaga.

aku banyak berharap pada generasi muda
yang menjunjung tinggi hukum negara
memberantas pejabat buta
menghidupkan kejayaan bangsa indonesia

Rabu, 23 Januari 2013

Siapa Dia?

tak ada sapa ini aku berkata
walau sepi kini menyapa
aku ini ucapkan rasa
yang terhalang tembok tetangga

siapa dia?
dari mana dia?
apakah dia tahu?
yang kini hati ku membeku?

bila semua biasa-biasa
hanya sepi malam tinggalkan senja
tak ingin berjumpa
tap hati ini memuja

siapa dia?
dari mana dia?
munjul tiba-tiba!
hatiku berkata!

Rabu, 16 Januari 2013

"Biografi Harris Effendi Thahar"



dilahirkan di Tembilahan (Riau) pada tanggal 4 Januari 1950. Ia kuliah di IKIP Padang dan memperoleh gelar Sarjana Muda pada tahun 1976 dari Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur. Kini, dia menjadi wartawan di Padang dan mengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Padang. Setelah menamatkan program S1 dan S2 di Universitas Negeri Padang tahun 1995, ia menjadi dosen tamu di Universitas Tasmania, Australia. Ia menulis sajak dan cerpen. Kumpulan sajaknya adalah Lagu Sederhana Merdeka (1979) dan kumpulan cerpen Si Padang (2003). Cerpen-cerpennya dimuat di harian Kompas. Cerpen-cerpennya sering terpilih dalam seleksi cerpen terbaik Kompas. Karya tulis lainnya adalah Kiat Menulis Cerpen (1999).


Memulai kariernya sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan IKIP Padang. Bersamaan dengan itu ia bekerja sambilan sebagai wartawan di surat kabar terbitan Padang. Di IKIP Padang, ia menjadi dosen di Fakultas Bahasa, Sastra, dan Seni. Tahun 1995, ia sempat mengajar Sastra Indonesia di Universitas Tasmania, Hobart, Australia. Selain mengajar dan menjadi wartawan, ia juga aktif menulis. Menulis dijadikannya sebagai sarana untuk mengungkapkan kegelisahan-kegelisahannya. Sebagai seorang penulis, Harris ikut terlibat dalam kelompok diskusi "Kerikil Tajam" bersama para penulis lainnya sepeti Hamid Jabbar dan Darman Moenir.

Cerpen-cerpennya banyak menyoroti budaya dan masyarakat minang, antara lain "Si Padang" yang menggambarkan perilaku para tokoh panutan di rantau yang justru tidak pantas untuk diteladani. Cerpen ini dimuat di harian kompas pada tanggal 14 September 1986, dan sempat menghebohkan orang Minang perantauan. Cerpen lainnya "Arwana" juga menyodorkan sisi lain orang Minang yang berlatarkan militer. Karya-karyanya kemudian diterbitkan dalam bentuk buku kumpulan sajak "Lagu Sederhana Merdeka" (1979) dan dua buku kumpulan cerpen "Si Padang" (2003) serta "Anjing Bagus" (2005). Selain itu ia juga menulis buku yang berjudul "Kiat Menulis Cerpen" (1999). Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Harris_Effendi_Thahar
               http://alyandthenongkojajar.blogspot.com/2009/10/harris-effendi-thahar.html

https://www.facebook.com/tolee.mimpi
[Tutup]
Link Exchange